Pelajari Industrialisasi Pengolahan Tepung Sagu dan Tapioka, Gubernur East Sepik PNG Kunjungi PT. BAA

BANGKA, DIKSINEWS.COM – Gubernur Provinsi East Sepik, Papua Nugini, Allan Bird beserta rombongan melakukan kunjungan ke PT. Bangka Asindo Agri yang berada di Kelurahan Kenanga, Sungailiat – Bangka, Rabu (19/2/2025). Kunjungan tang bertujuan untuk melihat rangkaian proses yang dilakukan perusahaan dalam industrialisasi mengolah tepung sagu dan tapioka itu diterima langsung oleh Owner PT. BAA, Fidriyanto.

Usai berkeliling meninjau proses produksi tepung sagu, Allan Bird mengatakan kepada awak media bahwa kunjungannya ke PT. BAA didasari atas informasi yang didapatkan satu tahun yang lalu tentang adanya perusahaan di Bangka yang mengolah tepung sagu dan tapioka secara modern. Ia sebutkan, pihaknya memiliki banyak sekali pohon sagu namun belum termanfaatkan secara optimal.

Allan Bird menambahkan kalau saat ini di Provinsi East Sepik ada kurang lebih 500 ribu hektar lahan yang belum termanfaatkan dengan baik.

“Masyarakat di East Sepik sudah terbiasa dengan mengkonsumsi sagu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kedatangan saya bersama rombongan ke PT. BAA ini bertujuan untuk melihat langsung proses pembuatan tepung sagu dan tapioka,” ujarnya.

Perkenalannya dengan Owner PT. BAA pun, dirinya harapkan dapat terjalin sebuah kerjasama dalam bentuk investasi pendirian pabrik pembuatan tepung sagu di Provinsi East Sepik.

“Saya sangat berharap nantinya dapat dibangun pabrik serupa seperti yang dimiliki oleh PT. BAA, yang nantinya bisa bermanfaat bagi masyarakat Papua Nugini dan terkhusus bagi masyarakat Provinsi East Sepik. Dengan harga tepung terigu yang cukup tinggi di tingkat dunia, maka salah satu jalan keluarnya adalah harus mengoptimalkan potensi sagu,” terangnya.

Kemudian, Allan Bird dalam kesempatan tersebut mengungkapkan rasa kagumnya setelah melihat produk produk makanan berbahan sagu seperti cake, cookies dan mie yang dibuat oleh perusahaan. Menurutnya, apa yang telah dilakukan oleh PT. BAA adalah sebuah terobosan perubahan cara berpikir.

Ia menjelaskan jika harga tepung sagu di Provinsi East Sepik per kg 6 Kina atau Rp. 24.336, lebih mahal dibandingkan di Indonesia yang hanya seharga Rp. 8.122. Melihat perbedaan harga itu yang sangat signifikan tersebut, dirinya berpendapat bahwa ini menjadi peluang bagi Papua Nugini menjadikan sagu sebagai bahan ketahanan pangan.
Sementara itu optimalisasi pengolahan limbah cair dan padat yang telah dilakukan oleh PT. BAA , ia katakan juga bisa diterapkan di daerahnya. Dirinya juga menyebutkan bahwa sistem pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan dapat menjadi contoh model bisnis yang baik, yang mana petani yang mengirimkan pohon sagu atau singkong langsung di bayar cash oleh perusahaan.
“Saat ini yang menjadi isu bukan saja optimalisasi limbah, akan tetapi kami sangat peduli dengan optimalisasi limbah cair menjadi biogas. Kita sangat berharap sekali pabrik semacam ini bisa diimplementasikan di Papua Nugini. Oleh sebab itu, kami juga inginkan kolaborasi dengan PT. BAA tetap berlanjut dengan baik,” pungkasnya.

Sementara itu, Fidriyanto yang akrab disapa Abo ini mengutarakan apabila dirinya belum pernah berkunjung ke Papua Nugini. Akan tetapi, dengan mendengarkan apa yang disampaikan oleh Gubernur East Sepik, pihaknya sangat tertarik dengan potensi sagu yang harus dikembangkan.

Lebih lanjut Abo katakan bahwa bermula dari Bangka inilah pihaknya memulai dan menemukan sebuah inovasi baru dalam mengembangkan produk hilirisasi industri tepung sagu.

“Kerjasama dengan Papua Nugini ini masih perlu kita kaji prospek ke depannya seperti apa. Dan kita akan ke berkunjung PNG dalam waktu dekat ini. Saya melihat mereka sangat terkejut sekali melihat dengan apa yang telah kami lakukan disini, dan mereka katakan industri seperti yang harus dimiliki oleh Provinsi East Sepik ,” tutupnya.