5 Warga Bangka Selatan Teridentifikasi Positif HIV

BANGKA SELATAN, DIKSINEW.COM — Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Bangka Selatan terus memperketat gempuran pencegahan penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV). Hingga pertengahan tahun 2026, tercatat akumulasi kasus HIV di Bangka Selatan telah mencapai 93 kasus.

​Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes PPKB Bangka Selatan, Slamet Wahidin mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Juni 2026, pihaknya kembali menemukan 5 kasus baru penderita HIV.

​”Kasus lama yang terdata hingga tahun 2026 ini secara akumulatif mencapai 93 orang. Nah, untuk tahun 2026 ini, sampai dengan bulan Juni tercatat ada 5 orang penderita baru yang teridentifikasi mengidap HIV,” ujar Slamet Wahidin pada Senin (31/8/2026).

​Slamet menjelaskan, para penderita baru tersebut berada dalam rentang usia produktif, mulai dari usia remaja hingga dewasa. Sebagian besar kasus ini terdeteksi saat pasien melakukan pemeriksaan medis di layanan kesehatan.

​”Mengingat sebagian besar kasus ini ditemukan saat pasien berobat ke rumah sakit, wilayah Toboali menjadi daerah dengan temuan kasus terbanyak,” jelasnya.

Menanggapi faktor risiko penularan, Slamet tidak menampik adanya pergeseran tren perilaku hidup berisiko yang menjadi pemicu utama penularan dalam beberapa tahun terakhir.

​”Kalau kita lihat tren beberapa tahun belakangan ini, penyumbang terbesar penderita HIV/AIDS didominasi oleh meningkatnya perilaku LGBT. Namun demikian, ada juga penularan yang berasal di luar kelompok tersebut,” bebernya.

​Guna menekan angka penyebaran agar tidak semakin meluas, Dinkes PPKB Bangka Selatan memfokuskan sasaran screening dan deteksi dini pada dua kelompok populasi utama.

​”Sasaran program pencegahan kita cukup luas. Pertama, seluruh ibu hamil di Kabupaten Bangka Selatan wajib menjalani screening pemeriksaan HIV guna mencegah penularan dari ibu ke bayi. Kedua, kita menyasar tempat-tempat berisiko seperti kafe-kafe dan pusat hiburan malam,” tegas Slamet.

​Ia menambahkan, karena di wilayah Bangka Selatan tidak terdapat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas)—yang biasanya juga menjadi salah satu titik populasi berisiko—maka pengawasan dan pemeriksaan lapangan difokuskan penuh pada lokasi-lokasi hiburan serta layanan kesehatan masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan pun mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan pola hidup sehat, menghindari perilaku seks berisiko, serta tidak ragu melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala demi memutus mata rantai penularan HIV/AIDS di Negeri Junjung Besaoh.

(*)