BANGKA SELATAN, DIKSINEWS.COM – Menindaklanjuti kasus dugaan bullying yang menyebabkan meninggal ZN Bocah SD di Toboali pada Minggu (27/07). Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Bangka Selatan menggelar konferensi pers pada hari, Senin (28/07/25).
Acara konferensi pers ini juga menghadirkan Kepala Sekolah Cholid dan Wali Murid.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bangka Selatan, Anshori mengatakan atas kejadian ini Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan sangat turut berduka atas meninggalnya ZH (10) seorang pelajar kelas 5 SD di Toboali.
‘Atas kejadian ini kami tidak akan tinggal diam dan akan menuntut tuntas dugaan pristiwa kasus bullying yang menimpa ZN,” tutur Anshori.
Sebelumnya, kepala sekolah telah menindaklanjuti dan melakukan pemanggilan terhadap 6 siswa dan juga orang tua yang diduga membuli korban.
“Kami pun telah berkunjung kerumah korban, dan kami pun telah mendapatkan infomasi dari keluarga korban ZH. Bahwa selama ini korban tidak hanya mendapatkan kekerasan secara verbal tetapi kelakuan secara fisik pun sering korban terima,” jelasnya.
“Makanya kami saat ini masih menunggu hasil resmi dari pihak yang berwajib, karena orang tua korban pun akan melaporkan kejadian ini ke Polres Basel,” pungkasnya.
Sementara kepala sekolah, Cholid menjelaskan kejadian perundungan ini sebelumnya di ketahui setelah ibu korban pada Kamis (17/07) mendatangi sekolah, dengan mengadukan bahwa anaknya menjadi korban bullying oleh teman temannya dengan cara diolok olok. Setelah mengetahui hal tersebut pihak sekolah langsung menindaklanjuti dan memanggil terduga 6 anak tersebut. Saat 6 anak itu dipanggil dan berada diruangan kantor sekolah, diantara dari 6 anak, 4 anak melarikan diri dan 2 lainnya tetap berada ruangan kantor sekolah.
“Lalu, saya memerintahkan penjaga sekolah untuk mencari 4 anak yang melarikan diri tersebut. Saat dicari akhirnya 4 anak itu ditemukan di tempat eks tambang,” jelasnya.
“Saat dilakukan interogasi kepada 6 terduga pelaku bullying, salah satu anak mengaku bahwa ia melakukan menggendang panci kepinggir telinga korban, sedangkan kelima anak lainnya hanya megolok olok saja,”
Kemudian pada hari Senin (21/07) pihak sekolah memanggil semua orang tua dari dugaan bullying. Dan pada hari Selasa (22/07) semua orang tua 6 siswa tersebut hadir dan membuat surat pernyataan untuk tidak melakukan hal bullying lagi. Jika masih melakukan hal itu kembali maka pihak sekolah akan menindaki kembali dengan mengeluarkan siswa dari sekolah tersebut.
Pada hari Kamis (24/07), wali kelas ZH mengetahui bahwa ZH tidak masuk kelas. Mengetahui hal itu, lalu wali kelas melihat status Whatshaps orang tua korban, bahwa ZH sedang dirawat di rumah sakit, akibat mengalami sakit usus dan lambung.
Lalu, setelah mengetahui hal itu, kepala sekolah, wali kelas dan guru guru semuanya berinisiatif untuk menjenguk ZH di rumah sakit.
“Kami, semua guru sudah berinisiatif untuk melihat anak didik kami ZH kerumah sakit. Namun saat kami konfirmasi kembali dengan orang tua ZH, orang tuanya mengatakan bahwa ZH akan di operasi terkait, mendengar hal itu makanya kami menunda untuk melihat ZH kerumah sakit, karena takut atas kedatangan kami nanti bisa mengganggu konsentrasi orang tua ZH dan keluarganya saat mendampingi ZH operasi. Makanya kami menunda untuk menjenguk ZH,” tuturnya.
“Kami mengakui, bahwa perundungan bullying memang terjadi tetapi hanya sebatas verbal, dan itu dari hasil pengakuan para anak anak yang bersangkutan,” terangnya.
(Dolly)

