Asisten Bupati Basel M. Zamroni: Permainan Tradisional Bentuk Edukasi Positif Generasi Muda

BANGKA SELATAN, DIKSINEW.COM — Suasana Alun-Alun Simpang Lima Toboali pada Jumat (18/9/2026) malam mendadak semarak dan riuh penuh tawa. Ratusan anak bersama orang tua larut dalam keceriaan berbagai permainan tradisional era 80 hingga 90-an dalam gelaran bertajuk “Nostalgia Permainan Tradisional ala 90-an” yang diinisiasi oleh Komunitas Literasi Budaya dan Seni (LIBAS) Kabupaten Bangka Selatan.

​Kegiatan pelestarian budaya yang digagas Ketua LIBAS Bangka Selatan, Yulhaidir (Bung Yoyok Haidir), bersama rekan-rekan penggiat literasi ini mendapat apresiasi tinggi dan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Selatan.

​Pemerintah daerah menilai aksi ini bukan sekadar ajang bernostalgia, melainkan gerakan edukasi nyata untuk membentengi generasi masa kini dari ketergantungan gawai (gadget) yang kian marak.

​Hadir langsung di tengah kemeriahan warga, Asisten Bupati Bangka Selatan, M. Zamroni, menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif kreatif para pegiat seni dan literasi tersebut. Menurutnya, menghidupkan kembali kearifan lokal adalah langkah penting dalam membentuk karakter anak-anak di era modern.

​”Pemerintah Daerah Bangka Selatan sangat mengapresiasi apa yang dilakukan oleh para penggiat literasi bersama Bung Yulhaidir. Kegiatan ini memberi semangat kepada generasi muda kita untuk mengingat kembali permainan-permainan tradisional yang sudah turun-temurun,” ujar M. Zamroni saat ditemui di Alun-Alun Simpang Lima Toboali.

​Zamroni menambahkan, ruang interaksi seperti ini sangat efektif mengalihkan perhatian anak-anak dari layar gawai menuju aktivitas fisik yang menyehatkan dan sarat interaksi sosial.

“

Supaya anak-anak generasi sekarang ini tidak hanya bermain gadget saja, tetapi juga mengenal dan memahami kekayaan permainan tradisional yang ada di Bangka, khususnya Bangka Selatan. Ini menjadi media edukasi yang sangat positif bagi anak-anak kita,” tegasnya.

​Sepanjang malam, beragam permainan tempo dulu sukses memikat antusiasme pengunjung dari berbagai kalangan usia. Anak-anak tampak asyik melompat tali karet (main Yeye), bermain Rujak, Kutik, Hago, Samok, hingga memainkan Holaho (hula hoop). Gelak tawa dan sorak gembira pun tak terelakkan saat para orang tua turut mendampingi sekaligus bernostalgia dengan masa kecil mereka.

​Tingginya respons masyarakat membuktikan bahwa kerinduan terhadap ruang bermain bersama masih sangat besar. M. Zamroni mengungkapkan bahwa atmosfer yang tercipta mengingatkan memori hangat masa lalu yang layak diwariskan ke generasi berikutnya.

​”Kami dari sisi pemerintah daerah melihat antusiasme masyarakat masih sangat tinggi. Artinya, masyarakat sangat memorable dengan memori era 80-an dan 90-an melalui permainan yang sudah familiar ini. Mudah-mudahan anak-anak usia sekolah ini bisa ikut melestarikan permainan tradisional di Bangka Selatan,” ungkapnya.

​Lebih jauh, Zamroni memandang kegiatan ini memiliki nilai strategis ganda, yakni pelestarian budaya sekaligus pengungkit sektor pariwisata daerah. Keunikan permainan tradisional dinilai dapat menjadi magnet atraksi wisata budaya yang memikat pelancong lokal maupun luar daerah.

”

Pemerintah daerah tentu sangat mendukung. Ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata lokal kita melalui kearifan permainan tradisional,” tambah Zamroni.

​Menatap agenda ke depan, Pemkab Bangka Selatan berkomitmen untuk terus menyokong kegiatan serupa agar digelar lebih meriah dan berkelanjutan. Bahkan, pada edisi selanjutnya diharapkan ragam permainan tradisional khas daerah lainnya, seperti permainan Tamat dan Pilon, dapat kembali dimainkan.

​”Mudah-mudahan ke depan pemerintah daerah dapat memberi dukungan yang lebih besar lagi untuk kegiatan-kegiatan berikutnya yang diinisiasi kawan-kawan penggiat literasi, budaya, dan permainan tradisional di Bangka Selatan,” pungkas Zamroni.

​Acara yang berlangsung hingga larut malam tersebut turut dihadiri oleh jajaran penggiat seni, tokoh pemuda, pemerhati budaya, serta ratusan masyarakat yang memadati ruang publik ikonik kebanggaan warga Toboali tersebut.

(*)